Pernahkah terlintas dalam pikiranmu,
tentang seseorang yang hadir di beranda?
Dialah yang menangkap setiap
perasaan bimbang dan cemasmu.
Pernahkah engkau benar-benar merasa takjub,
ketika ia mengatakan: “Burung kolibri merah dadu itu
kuterbangkan dari hatiku, hanya untukmu. Sungguh.”
Lalu kaucuri sepasang bintang dari tatapannya
yang amat cemerlang. Pernahkah?
Selalu saja terbit perasaan ‘menyesal’ setiap kali tuntas membaca karya-karya mas Kef karena ’sihirnya’ mampu membuat kita terjerembab pada situasi melankoli mendayu-dayu biru. Sebuah situasi yang jika tidak mampu dikendalikan dan ditempatkan pada ruang yang semestinya hanya akan berujung pada lamunan yang memfatamorgana. Dan benarlah, ’sihir’ ini kembali terbukti melalui kelembutan deskripsi dan intonasi diksi dalam buku kumpulan cerpen (cinta) terbaru mas Kef, Burung Kolibri Merah Dadu.
Continue reading →





