Seloyang Pizza Hut Tuna Dan Obrolan Dana DKP

Siang kemarin saya diundang ngobrol sembari makan (atau makan sembari ngobrol?) oleh seorang kawan, janji ketemu jam 2 di Pizza Hut Tebet Indah Square (TIS). Secara sudah lama tidak makan pizza *dasar ndeso :) ditambah gratisan pula, maka sulit rasanya untuk ditolak apapun alasannya.

Saking menikmatinya jalanan Jakarta yang lengang karena libur panjang akhir pekan, baru tersadar kalau saya yang dari arah Cawang seharusnya memutar balik di putaran Pancoran bukannya di putaran Mampang. Pukul 2 lebih baru sampai tempat kejadian, kawan yang mengundang sudah nangkring rapi di pojokan dekat jendela lantai 2 dengan ditemani berbagai hidangan yang menggiurkan, yang pasti jauh lebih mudah untuk menikmatinya dibandingkan menghapal namanya apalagi membayangkan harganya.

Sebenarnya selain pizza dan gratisan, satu lagi alasan yang membuat saya girang dengan undangan ini adalah karena kawan yang mengundang adalah seorang kader PKS yang getol (baca: berhusnudzon tinggi terhadap partai), meski seringkali agak ‘nyeleneh’ juga. Salah satu bentuk ‘kenyelenehannya’ adalah mengundang makan di Pizza Hut karena biasanya kader PKS kalau ngajak ketemu ya di masjid dan lagian Pizza Hut kan amirikyuun. :)

Selekas duduk dan memesan Red Italian Soda *namanya ajaib bukan, padahal di warung sebelah minuman seperti ini dikenal sebagai soda gembira, saya langsung membuka obrolan dengan pertanyaan terkait dana DKP yang nyerempet PKS, sembari dibumbui rempah-rempah.

“Gimana tuh PKS ama dana DKP? Masak belum ada penjelasan resmi, kalah dong ama Amien Rais yang berani pasang badan? Sikapnya jauh lebih terhormat dan gentle.”

“Menurut ente sendiri ngeliatnya gimana? Apakah yakin PKS salah atau gimana?” kawan ini malah balik bertanya, sembari tetap asyik menghabiskan pizza tunanya.

“Ya kalau emang nerima, kudu bisa ngejelasinlah. Jangan malah berkelit kesana dimari.”

“Kawan, kalau kita minta duit, terus dikasih; kira-kira kita nanya gak tu duit darimana? Atau katakanlah kamu ngajuin permohonan dana, bawa proposal terus dikasih; kamu nanya gak tu duit halal apa gak? Sudah syukur kamu dikasih.” jawabnya santai.

“Miriplah dengan zaman kita di kampus dulu ketika ngadain kegiatan masjid, coba ngajuin permohonan dana ke Depag, terus dikasih (seingat dia) 750 ribu. Kalau diusut, bisa jadi 750 ribu itu dari DAU (dana abadi ummat) yang kemarin-kemarin bermasalah.”

“Kira-kira seperti itu menurut saya. Dan kemungkinan besar atas logika berpikir seperti itulah yang membuat pak Amien berani pasang badan, kemungkinan juga setelah berkonsultasi dengan para pengacaranya.” tambahnya lagi.

Logika berpikirnya sederhana dan masuk akal saja, meski harusnya tetap ada penjelasan resmi dari pihak-pihak yang tersangkut dana DKP ini. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menciderai husnudzonnya terhadap PKS dengan senyum-senyum dan tidak lagi melontarkan pertanyaan berbumbu, ditambah kesadaran saya dia ‘hanyalah’ seorang kawan (yang kebetulan lagi getol ama PKS) dan bukanlah petinggi PKS. :)

“PKS disebut dapat dana DKP ini melalui perantara, apakah dana tersebut benar sampai ke bendahara DPP, itu yang saya tidak bisa jawab dan tidak mau berasumsi.” imbuhnya.

Nah lho…

Possibly Related Posts:

Readers who viewed this page, also viewed:

Subscribe: get DHIKA DG delivered by email

11 comments

#1 rusle on 05.18.07 at 2:53 pm

kepemimpinan, ketulusan, dan kebijaksanaan hanya bisa terlihat ketika seseorang menghadapi masalah…

kepengecutan juga…

go head pak Amien!

#2 aulia ali on 05.18.07 at 5:45 pm

setuju bang ruslie. apapun itu pimpinan yang baik memang musti berani pasang badan dulu, urusan keabsahan dan detailnya bisa diusut kemudian.

#3 mr.bink on 05.21.07 at 3:15 pm

OOT : Trus…pemilu ntar, ente mau nyoblos jago dari Pekaes atau Golkar-PDIP? :P

#4 mr.bink on 05.21.07 at 3:15 pm

OOT : Trus…Pilkadal ntar, ente mau nyoblos jago dari Pekaes atau Golkar-PDIP? :P

#5 Dhika on 05.22.07 at 6:30 am

#mr.bink,
kite mah warga bekasi nih bos, jadi cuma bisa nonton sembari tepuk tangan dari pinggiran :)

#6 hanum on 05.23.07 at 7:44 am

Susah ya minta/dikasih sumbangan di jaman sekarang. Dikasih dari organisasi/lembaga…kena usut jg di belakang hari. Dikasih dr personal..kena usut jg itu uang hasil korupsi ato bukan :D Lha terus piye? Swadana terus opo yo iso?

#7 Adinda on 05.23.07 at 6:51 pm

Apapun persoalan semacam ini, jangan merasa yakin dengan ‘penampilan fisik’ yang meluap keluar dengan berani begitu saja. Belum tentu Anda paham betul seluk-beluknya kan? Jadi nggak perlu asal ngomong dengan se-yakin2nya akan hal yang terungkap dimuka, apalagi menyangkut-pautkan dengan
orang lain (hal lain) yang memang atas dasar ketidak-sukaan sejak sebelumnya.
Ini suara orang yang paham dengan Pak Amin dan orang2 di sekitarnya.

#8 Dhika on 05.24.07 at 12:07 am

#Adinda,
saya tidak terlalu paham dengan maksud anda.
saya tidak menyatakan saya paham, sangat mungkin saya asal ngomong, yang pasti ini obrolan santai di gerai ph.

#9 BEJO on 05.25.07 at 7:02 pm

WAH CERITANYA SERU SEKALEE PAK? TAPI NOMONG2 YANG JAGOAN YANG MANA YAH ?

#10 Rama on 05.30.07 at 11:21 pm

Berfikirlah seribu kali untuk satu bicara
Ketimbang bicara beribu kali hanya dalam selintas pikiran

Cukupkan ilmu sebelum berkata
Cukupkan khasanah sebelum bertutur

#11 Jauhari on 07.12.07 at 11:01 am

Yeah… itulah hidup… sangat sedikit KEJUJURAN..
terutama di NEGERI ini……

*Tunanya mantep khan?

Leave a Comment