Alkisah ada sepasang manusia yang baru saja menikah; pastinya keduanya tengah digenangi perasaan bahagia penuh sukacita meski masih tinggal di rumah orang tua sang istri alias rumah mertua dipandang dari sudut sang suami, orang kebanyakan menyebutnya dengan Pondok Mertua Indah. *istilah ini agak bertendensi jender karena lebih melihat dari sudut pandang lelaki, ngerasa?
Tepat satu hari setelah menikah atau hari kedua tinggal di rumah mertua, sang suami harus pergi keluar kota seharian penuh; ini ‘tugas negara’, pantang ditolak adanya.
Ndak, jangan kau bayangkan sama seperti kisah sahabat jaman rosulullah Muhammad yang ketika terdengar panggilan jihad, langsung bergegas berangkat meski tengah menikmati malam pertama dan kemudian gugur syahid; kisah pasangan ini mah jauuuh dari itu.
Alhamdulillah, ‘tugas negara’ ini sudah dikomunikasikan sebelumnya oleh sang suami; sang istri nampak ikhlas ditinggal seharian dan bapak mertuapun nampak tidak tersinggung, bahkan sempat menanyakan: “berangkat jam berapa besok?”. “Jam 5.30 pagi pak.” jawab sang suami berlagak mantap.
Jam 4 pagi pada hari keberangkatan, telah tersedia satu piring nasi di atas meja makan di bawah tudung saji, yang samar-samar terlihat seperti nasi goreng.
“Sarapan dulu mas?” tawar sang istri bernada tanya. “Sarapan apa makan sahur sih?” benak sang suami (cuma berani) dalam hati sembari mengeryitkan dahi. “Nanti saja sehabis subuhan, gak apa-apakan?” kalimat yang terlontar dari sang suami menjawab (bijak) tawaran sang istri.
Sehabis subuhan, duduk keduanya di meja makan. “Maaf mas, tadi lupa dicobain dulu. Jangan marah ya kalau rasanya ndak karuan.” sang istri membuka percakapan di meja makan.
Sang suami cuma menjawab dengan senyum, sembari memulai suapan pertamanya. “Subahanallahu, pedas sekali.” benak sang suami dalam hati, sembari mencoba tersenyum dan meneruskan kunyahannya.
“Maaf, tadi juga lupa ngasih kecap. Gak enak ya?” ujar sang istri sembari memelas bercampur penasaran.
“Subhanallahu, lagi panen cabe apa ya disini? Pedasnya mentok euy.” gumam sang suami masih dalam hati sembari mengunyah suapan keduanya.
Adegan berikutnya, sang suami mencoba menyuapkan nasi goreng ke istri demi menjawab rasa penasarannya. *silahkan irilah kalian wahai para bujangan “Whoaaa, pedes sekali, maaf ya mas.” reaksi sang istri spontan merasa bersalah.
“Nasi gorengnya nikmat sekali kok dik; segenap cinta yang ditumpahkan ketika menggorengnya membuat rasanya luar biasa, terlebih makannya ditemani seseorang yang amat dicinta.” jawab sang suami penuh bijak dengan senyum berlagak cool dan tetap menghabiskan nasi goreng baladonya, tandas satu piring. *uhuk…uhuk…
ps: terima kasih sangat buat kawan-kawan yang telah menguraikan do’a (melalui sms, email, maupun komentar di blog) untuk pernikahan saya, terlebih yang telah menyempatkan hadir. Deg-degan? Pastilah. Skrinsut? Tunggu saja di flickr.
Possibly Related Posts:
Readers who viewed this page, also viewed:
- Rajab 1429
- Yusuf's Blog
- Mohon Doa Restu, Pembukaan Toko Sarung Tenun
- Superfluous
- Mencoba BSM Net Banking






19 comments ↓
cieehhhhhhhhhhhh yang pengantin baru
suit suit ……..
Kelupaan, blognya istrimu dimana neh, mo lihat masalah nasi goreng dari pandangan sang istri. he.. he..
#achedy,
istri ndak punya blog cak
asyeeem, nggarai pengen ae kang kang.
Oooo penganten baru itu sarapannya nasi goreng tho
ehmm..ehmm….masakan pertama ba’da nikah memang mengesankan yah…:) *pengalaman pribadi*
Ditunggu skrinsut’e
Ehem-ehem…. cieee…
Pengalaman pertama tak terlupakan…
Kalo liat pengantin baru pasti aja ada cerita2 lucu… hihihi…
hihihihihihi
ehem2
Cieee,… Cara yang bagus untuk bikin iri (yg positif) dan menyemangatin yang bujangan untuk segera nikah.
Barakallahu fiikum, semoga rukun dan langgeng ya..
Oh iya dhik,.. posting ini udah di-approve blm sama istri? Atau sudah ‘auto approval mode: ON’ ? hehehehe…
#Dida,
sudah tho, malamnya langsung baca komen2 yg masuk bareng istri
lalu…tidakkah engkau memberitahu sang istri soal sakit perutmu ketika bus ac tanpa toilet yang mengantar ‘tugas negaramu’ itu melaju kencang di tol cipularang ?
Oh, ternyata masak-masakan dan suap-suapan itu porsinya orang yang udah nikah tho? Oops.
Maaf mas, lupa masak air minum
hmmm… mana nih blog istrinya. Mau ta’ laporin…
Hahahahaaaaaaaa
Galak ambo mambaco blog mas dhika. hahaha….
Pokoknya keren yg udah nikah mah. Selamat ya!
barakallahulaka, mudah2 ga nyesel … kenaapa ga dari dulu …. nikah
wooii…!”ueenak, ko…!”sambil berkeringat. kan kepedesan. Iya kan Mas?
Leave a Comment