Menerobos Sungai Jakarta-Bekasi

Relatif tidak ada kata terlalu larut untuk bercengkerama berdiskusi dengan kawan-kawan yang memang sehati, namun kira-kira pukul 10.30 malam tadi saya memutuskan mengakhiri diskusi dan pulang, menempuh perjalanan Jakarta-Bekasi dengan motor yang selalu menemani.

Dua alternatif rute yang senantiasa saya lewati untuk perjalanan Jakarta-Bekasi adalah melalui terusan Casablanca - Pondok Kelapa lalu masuk Kalimalang atau melalui Cawang dan langsung masuk Kalimalang. Karena terbayang tumpahan air yang bakal menggenangi tinggi jalanan depan RS. Duren Sawit, maka saya urung menggunakan rute pertama dan lebih memilih rute kedua yang melalui Cawang.

Dasar ingatan saya memang agak supet, kok bisa-bisanya lupa bahwa terowongan Cawang bawah pasti juga banjir. Dan benar saja antrian panjang sudah nampak dan jalanan yang dekat terowongan Cawang bawah nampak seperti lautan. Saya ndak berani menerabasnya secara melihat banyak motor berguguran ketika mencoba melewatinya dan tinggi airnya, masya Allah.

Saya berbalik arah ke Cililitan, beberapa pengendara motor memprovokasi untuk masuk tol saja rame-rame, ah ndaklah saya masih normal dan memilih untuk melalui rute Kramat Jati-Tamini Square-Pondok Gedhe. Ketika melintas depan RS. Uki, jalur yang berlawanan arah dengan yang saya pakai juga sudah tergenang air cukup tinggi, tidak ada kendaraan yang berani melewati dan memilih untuk menggunakan jalur yang juga saya pakai, melawan arah.

Saya yakin bahwa masih banyak genangan banjir yang bakal saya temui dan (harus) dilewati, maka saya banyak-banyak saja berdoa dalam hati agar semuanya baik-baik saja nanti. Tantangan pertama ketemu di lampu merah Tamini Square, genangan air cukup tinggi, namun toh saya ndak mungkin berbalik arah lagi, capek. Saya ikuti motor depan yang menaikkan motor ke trotoar tengah pembatas jalan *darurat nih dan alhamdulillah tantangan terlewati. Tantangan berikutnya adalah genangan banjir di jalan depan perumahan Graha, lebih tinggi dibanding banjir di Tamini Square dan ternyata juga panjang tiada henti, namun alhamdulillah bisa dilewati. Berikutnya adalah banjir di jalanan setelah pasar Jati Asih, lebih tinggi dan panjang ditambah jalanan yang rusak meski berhati-hati. Alhamdulillah masih juga bisa dilewati tanpa membuat motor saya mogok dan berhenti. Tantangan akhir *sebenarnya bukan yang terakhir sih yang lebih nggilani adalah banjir di depan perumahan Jaka Kencana, subhanallahu: hampir setinggi leher motor, panjang seperti tidak mau berakhir dan jalanannya rusak parah membuat saya mesti memegang erat kendali motor, namun tetap terseret-seret arus. Alhamdulillah tidak sempat terjatuh dan ajaibnya lagi motor saya tetap belum mau mogok, entoh esok hari.

Diluar tantangan-tantangan di atas, relatif jalanan yang saya lewati tergenang air seluruhnya, membuat saya seperti berjalan menerobos sungai. Jalanan utama setelah pintu masuk di Kemang Pratama 1 depan sana juga sudah tergenangi air yang cukup tinggi, saluran air (got) juga sudah penuh terisi, jika hujan tiada mau berhenti dan air kiriman terus masuk, maka banjir nampaknya tinggal menghitung hari. Pukul 12.30 saya sampai di rumah dan terus berucap syukur alhamdulillah. Pukul 02.34 saya menyelesaikan cerita ini dan nampaknya hujan telah pula berhenti.

Possibly Related Posts:

Readers who viewed this page, also viewed:

Subscribe: get DHIKA DG delivered by email

6 comments

#1 Banowati on 02.02.07 at 8:26 am

banjir di mana-mana nih… karena banyak daerah yang banjir ujian hari ini dibatalkan dan diganti hari selasa minggu depan… menyebalkan sekali… saya kan sudah capek-capek belajar (belajar???) dan yang lebih nyebelin aku udah merencanakan pulang ke Riau hari minggu besok… uuurrgghh…

#2 Irma Citarayani on 02.02.07 at 8:37 am

Wah banjir emang dimana-mana. Air kali di manggarai terlihat sudah sampai di bibir kali. Terowongan landmark banjir semata kaki sehingga saya kudu keciplak kecipluk sama air dan sedikit berbasah-basah dengan air yang coklat warnanya ;((

#3 Kosi on 02.02.07 at 9:54 am

Naik motor di kala hujan+banjir, di jalanan ibukota ? Subhanallah, luar biasa memang, butuh perjuangan serta kesabaran ekstra.

Tapi itu mungkin belum ada apa2nya dibandingkan dg perjuangan saudara2 kita yg menjadi korban banjir. Yuuukk, kita ulurkan tangan untuk mereka. InsyaAllah Dompet Peduli Banjir Ibukota segera dibuka, tunggu saja di blog peduli :)

#4 Dhika on 02.03.07 at 6:33 am

#Banowati, #Irma Citarayani,
sabar tho, masih belum seberapa kok dibanding yg rumahnya terendam banjir :)

#Kosi,
saya sudah baca pres rilis mengenai pengumpulan bantuannya, semoga berkah!

#5 yanti on 02.07.07 at 11:00 am

saya sempat mengarungi lautan juga di jalanan Jakarta :(.
semoga banjirnya cepat surut ya..

#6 Dhika on 02.08.07 at 7:04 am

#yanti,
:), senasiblah kita, jakarta memang layaknya lautan kala banjir.
banjir di tempat saya dah surut.

Leave a Comment