Sejak saya kenal pesawat TV dan tahu ada penanyangan acara siaran langsung sholat id yang diselenggarakan di masjid Istiqlal (baik Idul Fitri maupun Idul Adha) puluhan tahun silam, belum pernah sekalipun saya menyimak pembacaan khutbahnya secara serius. Tadi pagipun demikian; ketika ada penayangan siaran langsung sholat id di masjid Istiqlal saya lebih memilih menengok acara dari stasiun TV yang tidak menayangkan acara siaran langsung tersebut.
Saya sendiri kurang tahu sebab pastinya, yang pasti bukan karena bentrok waktu sebab biasanya saya sholat id lebih pagi dibandingkan waktu penayangan acara tersebut. Apakah karena memang sekilas nampak membosankan dan terdengar ‘lembut’? Apakah karena tidak memenuhi kaidah 80:20, 80% keteladanan dan cukup 20% berteorinya? Bisa jadi pula karena memang sayanya yang pemalas.
Saya coba tanya seorang teman yang kebetulan terlihat mengudara di YM, dia mengaku sama seperti saya; belum pernah sekalipun menyimak secara serius. *nah lho. Bagaimana dengan Anda? Kenapa?
Possibly Related Posts:
Readers who viewed this page, also viewed:
- 10 Rules Of Branding
- Rajab 1429
- Yusuf's Blog
- Mohon Doa Restu, Pembukaan Toko Sarung Tenun
- Mencoba BSM Net Banking






21 comments ↓
wah antum di istiqlal yah? gak sama donk…
tp emang sih, mungkin gara2 arsitektur masjid yg terlalu luas… s’hingga suaranya kemana2…
jd emang bener, sholat ied itu lebih enak di lapangan.
#muhajirs,
waduh, salah tangkep ya? setelah saya perhatiken, kalimat saya memang beribet euy
maksud saya, saya belum pernah sekalipun menyimak secara serius khutbah sholat ied istiqlal yang ditayangkan di TV2 setiap tahun, bukan sayanya yang sholat ied di istiqlal. saya mah sholat ied di Pekalongan mas.
sama dhik,
tanya ken…apa??
Kayanya kalo lagi hari raya, pulang shalat udah sibuk ama tamu deh. Gak peduli TV ngomong apa, malah biasanya dimatiin
Tapi kemaren sempet nyimak beberapa detik. OMG, itu kalimat… kaya pidato presiden ajah :p Gak luwes ya, mungkin tergantung siapa yang bicara.
If it was me (there, between jamaah), I might have gone long before he’s done talking. Bukan apa2, para juragan cilik pasti gak betah
Karena anda tak faham keuntungan mendengarkan ucapan Ulama, tak faham keuntungan mendengarkan pembicaraan tentang Agama, maka anda tidak mau mujahadahkan telinga buat mendengarnya.
Pembicaraan tentang Agama itu yg mulia bukan isi cuma pembicaraan nya saja, bukan siapa yg bicara, tetapi “Majelis” nya saja sudah ALLAH muliakan, sehingga Malaikat akan duduk ber shaf-shaf sampai ke ARSY ikut mendengarkan.
Nanti di Akherat orang yg pertama disesali oleh kafir adalah karena mereka tidak mau “mendengar”.
Semoga anda mau belajar “mendengar”.
Wah sama deh sama jeng lita, pulang dari sholat ied artinya musti nyiapin hidangan lebaran buat tamu2 yang uakeh tnan, tv dinyalain sekedar bikin suasana tambah rame aja, ditengok bentar trus dicuekin, termasuk nyuekin isi ceramah yang kayanya slalu disampaikan dengan cara yang “datar2″ aja…
#Raiq,
sangat mungkin apa yang anda sampaikan benar; saya perlu belajar banyak untuk ‘mendengar’. masalah sederhananya, orang seperti saya ini (jauh) lebih banyak dibanding yg sudah ngeh buat mendengar seperti anda.
pertanyaan berikutnya, apakah ‘egoisme’ kita yang sudah merasa cukup mendapat keberkahan dengan mendengar dan ikut dalam sebuah majlis menghalani kita untuk ‘menyampaikan’ bahwa apa yg barusan kita dengarkan ini membosankan dan datar, harusnya bisa lebih baik?
dan kita bicara khutbah ied di istiqlal yang mana banyak penyimaknya yang punya cukup pengaruh terhadap arah kemana negeri ini kedepan, kalau saja mereka mampu mendapat ‘lebih’ dari majlis yang mereka (terpaksa) ikuti, rasanya efek positifnya insyaAllah bisa lebih besar, begitu bukan?
#Lita, #Irma,
iya deh, yang emak2. sepulang sholat ied, pada sibuk nyiapin yang harus disiapin.
Sama! Ga cuma khotbah istiqlal, khotbah jumat juga! Habis, yang dibahas pun sama saja. Minggu pertama puasa, paling tentang “menyambut ramadhan de el el”.
Kalau minggu terakhir puasa, paling ngajak untuk lebih khusyuk beribadah, et al.
Bukannya salah sih, tapi ya monoton banget gitu loh. Taruhan saya pasti minggu ini khotbah Jumatnya menghimbau kita untuk tidak melupakan makna puasa dan meneruskan berbuat baik (or something like that). Membosankan!
#Oskar,
repetisi thema nampaknya tidak ada salahnya mas, masuk dalam bab pengingatan kembali (tau’iyah). terasa monoton itulah yang mungkin lebih dikarenakan kurang dalamnya khotib mengupas thema yang diulang atau membahas dari sisi lain, mungkin kurang pula memahami audiens.
pertanyaan sederhananya, sampeyan mau ndak nyontohin khutbah yang sekiranya ndak terlalu membosankan?
#owner
agama itu memang datar dan membosankan pak, itu itu aja, siang … malam, besoknya balik lagi siang … malam, sholat nya juga sholat Shubuh, Dzuhur, Ashar, Magrib dan Isya, besok nya diulangi itu juga lagi.
Ceramah ceramah pun itu itu juga yg kita dengar, kehidupan sesudah mati, kehidupan yg kekal, akherat.
Namun yg terpenting dari semua itu adalah bagaimana ketika dalam proses itu kita tiba tiba mati. Dimana kita saat kita mati, apakah dalam majelis lalai?
Beruntunglah kita yg ketika mati berada dalam “majelis” yg walau terasa “membosankan dan datar datar” saja tetapi membicarakan kebesaran ALLAH, sedang berdzikir kepada ALLAH. Sehingga kita mati dalam keadaan tidak lalai dari mengingat ALLAH.
#raiq,
saya kok kurang dan cenderung ndak sepakat kalo agama itu memang datar dan membosankan seperti yang anda sampaikan.
tema besarnya mungkin tidak jauh dari apa yang anda sampaikan, namun pembahasannyakan bisa saja banyak variasi dan saya yakin memang banyak karena agama mencakup seluruh sendi kehidupan.
memang beruntunglah jika kita mampu mati dalam majilis yg mengingatkan kita akan Allah, namun nampaknya kita bisa lebih beruntung jika kita mampu mati dalam majlis yang memang mengingatkan akan Allah dan juga tidak membosankan dan datar, begitu bukan?
saya juga gak sering2 amat dengerin khutbah… kebanyakan dari khutbah intinya menyuruh qta begini.. begitu.. begini… pembicara pasti bilang ini dosa.. itu dosa.. but something is missing… agama itu kan bukan suruh menyuruh, tapi kesadaran… kemauan… ngedengerin khutbah malah gak membangkitkan semangat saya untuk melakukan apa yg org itu bicarakan… saya lebih tertarik ama diskusi agama… lebih seru.. lebih ada challenge untuk melakukannya… err.. susah menjelaskannya haha..
#owner
setuju atau tidak itu bukan urusan saya, saya cuma menyampaikan, yg ALLAH nilai pada diri saya bukan hasil yg didapat tapi “usaha” yg saya dibuat, dan hidayah ada ditangan ALLAH.
Ulama-ulama, orang-orang yg ALLAH percaya untuk membicarakan kebesaran NYA, bicara Agama, adalah wali wali ALLAH, sekalipun membosankan buat di dengar, yg mereka sampaikan itu tetap kata kata ALLAH, dan hukumnya “wajib” buat di dengar.
Dan kalau saja kita mau korbankan, mujahadahkan, telinga kita untuk mendengarkan pembicaraan kebesaran-kebesaran ALLAH, bicara bicara Agama, walau awalnya membosankan namun suatu saat akan ALLAH perdengarkan ucapan ucapan yg membuat kita bersemangat mendengarnya.
Dan sudah kah kita tunaikan kewajiban “mendengar” kita dengan baik..???
#Raiq,
:), sepertinya kita sudah sepakat dengan bab mendengar, begitu bukan?
yang saya pertanyakan, tidak bisakah proses menyampaikan dan mendengar itu dilakukan dengan sebuah proses yang sekiranya tidak membuat pendengar bosan? bagaimana orang bisa paham, sadar dan mengamalkan bahwa mendengar itu sebuah kewajiban ketika dalam proses penyampaian awal banyak orang sudah merasa bosan duluan? klik ndak dengan apa yang saya maksud?
Klo nurut saya..itu karena bahasanya terlalu formil
Dulu sih pernah dengerin sampe selesei.. maklum musti ngisi buku kegiatan ramadhan.. :D..
Tapi memang bahasanya terlalu formal dan kadang kurang begitu mengena..
Assalamualaikum, wr wb
Saya punya majelis, yg dijamin anda anda tak akan bosan mendengarnya, kalo mau ikut “mendengar”, kita janjian.
#Raiq,
ok, thanks atas tawarannya, nanti saya hubungi kalau saya mau ikut dengar.
Assalamualaikum, wr wb
Maaf saya lupa (ini karena kesombongan saya), sesungguhnya “Majelis” itu bukan milik saya atau siapa siapa, tetapi milik “ALLAH”, dan saya juga sedang berjuang keras agar bisa hadir dalam “Majelis” tersebut.
Majelis itu adanya di SURGA ALLAH, ketika ALLAH membacakan Surat AR-RAHMAN buat hamba-hamba-NYA yg TAQWA, TAAT, TAWAKAL, Ber-IMAN, dan BerAmal SHALEH. Siapa berminat ikut…???
“Apakah karena tidak memenuhi kaidah 80:20, 80% keteladanan dan cukup 20% berteorinya?”
mmm..pemilihan kata yang tepat
Assalamu’alaikum wr. wb.,
Afwan to all of Ikhwah fiillah,
Ana punya usul, klo boleh bahasan yang Dhika “the owner” ajukan untuk dibahas di forum ini jangan yang bersifat ikhtilaf ataupun menimbulkan perbedaan pendapat karena akan memunculkan “jidal” dan akan banyak madhorotnya. Kalo boleh usul mendingan temanya yang bersifat untuk kepentingan membangun umat, jadi kita bisa sharring. Afwan. Jazakallah.
Leave a Comment