Kesahajaan Botswana

Rasanya sulit (bercampur tidak tega :)) bagi saya untuk menolak ajakan mas Kef menghadiri diskusi bentang sastra dunia malam tadi. Bagaimana tidak? Sampai-sampai beliau bersedia menjemput saya di kantor untuk jalan bareng. Ah tidak perlulah, akhirnya kita janjian bertemu di JHCC untuk kemudian jalan bareng ke MP Book Point, tempat diskusi berlangsung.

Sesampai di MP Book Point, yang hhmmm..menarik dan menawarkan konsep yang sedikit beda, kami langsung sholat maghrib di mushola pada bagian atas bangunan. Selekasnya langsung menuju ruangan besar dibagian belakang dan (seperti biasa) mendapati peminat diskusi buku yang tidak seberapa.

Selang berapa lama, mas Hikmat sebagai sohibul bait membuka acara dan langsung menyerahkan pada mas Kef sebagai moderator. Sebagai pembicara menghadirkan Santi Indra Astuti yang dosen komunikasi di Unisba.

Bahan diskusi dibuka dengan cerita akan keterkejutan dan kenaifan seorang Mma Ramotswe dan berlanjut dengan kesahajaan Botswana yang (dikatakan oleh mbak Santi) mampu dikonstruksi dengan sangat baik oleh Alexander McCall Smith.

Beberapa hal yang coba disampaikan oleh mbak Santi yang mampu saya tangkap diantaranya; ditengah kecenderungan dunia sastra untuk ‘mengaburkan’ batas moralitas, McCall Smith bertutur dengan sangat jelas antara hitam dan putih, selalu ada solusi bagi setiap permasalahan meskipun (mungkin) tidak memuaskan semua pihak. Mencoba menggambarkan bahwa ‘keperkasaan’ seorang perempuan adalah ketika dia mampu bersikap dengan patron keperempuanannya. Begitu banyak nilai moralitas yang ditampilkan dengan bersahaja tanpa nada mengurui dalam bingkai kesederhanaan Botswana pada tiap mozaik cerita yang disampaikan oleh McCall Smith dalam Kantor Detektif Wanita No.1. Dan yang lebih mengejutkan adalah Alexander McCall Smith bukanlah seorang Afrika, meskipun kelahiran Zimbabwe, dia seorang bule skotlandia sehingga mbak Sinta di akhir menjulukinya sebagai anak lelaki berhati Afrika.

Bagian menarik tentu sesi diskusi interaktif, paling menarik adalah pertanyaan (sentilan) dari mas Hikmat yang menyatakan karena McCall Smith ini hakikinya adalah orang bule dan kemudian bercerita mengenai budaya Afrika, apakah boleh kita (dengan menyimak wacana poskolianisme) menaruh curiga bahwa mungkin saja dia tengah ‘bermain-main’, tengah mencoba ‘meraih’ pasar dengan menghadirkan sesuatu yang beda. Ya kecurigaan tersebut tentu sah-sah saja dan diskusipun berkembang sampai ke Max havelaar. Sampai pada titik tidak ada kesimpulan yang mampu di ambil. :)

Adegan menarik lainnya tentu ketika saya mendapat jatah satu buku, Misteri Air Mata Jerapah, dan ditraktir makan oleh mas Kef pada saat perjalanan pulang. :)

Possibly Related Posts:

Readers who viewed this page, also viewed:

Subscribe: get DHIKA DG delivered by email

5 comments

#1 fmayaa on 07.26.06 at 2:22 pm

Udah dapet jatah buku .. ditraktir maem pula.. rizki amat tuh.. Katanya rumahnya digembok? masa sih? ga juga nih..
Happy Rajab, Sya’ban next to Ramadhan 1427 H Bro.., mohon maaf lahir bathin ya

#2 iman on 07.27.06 at 8:08 am

saya ga suka sama situ, soale situ kok lebih sering dtg ke acara yg berbau buku, lah yg pustakawan kan saya :P:P

#3 Dhika on 07.27.06 at 8:12 am

#fmayaa,
sami2 bune…

#iman,
pustakawan kan yg ngatur buku, sementara saya peminta buku :)

#4 pututik on 07.28.06 at 10:11 pm

Hmm, baru aja mampir sempat kesengsem :)

#5 lily on 07.06.07 at 10:29 am

Wah, PEMINTA BUKU? Boleh dong ilmu atau jurusnya!

Leave a Comment