Entries Tagged 'Personal' ↓

Yusuf’s Blog

Akhirnya temen ngekos jaman kuliah dulu yang mana hasil karyanya sudah banyak membantu dan menceriakan suasana ini ngeblog juga. Yusuf Arif Rahmanto namanya, saya sendiri suka memanggilnya bang Ucup. :)

Meskipun saya pikir dia agak ‘pendiam’, ternyata lancar juga ngeblognya. Happy blogging bang Ucup!

ps: Bang Ucup, komentarnya kok gak dibikin permalink? Pan jadi susah kalau mau ngelink komen.

Happy Problem

Sebuah email masuk dari sebuah perusahaan multinasional untuk bisa dibantu masalah pengadaan kemeja batik sutra dengan selendang sutranya dalam jumlah yang fantastis. Semuanya kembar untuk sebuah acara. Waktu yang tersedia tidak cukup banyak untuk menyiapkannya, jelas ini bikin pusing.

Berikutnya masuk telepon dari seseorang yang mengaku dari sebuah PH, menanyakan apakah tempat produksi batiknya di Pekalongan bisa dikunjungi untuk diliput. Jelas ini bikin deg-degan, meskipun follow-up emailnya belum juga kunjung datang.

Banyak telepon dan email masuk menyatakan maksud ingin langsung mengunjungi secara offline lapak Pasar Batik. Ini juga tidak kalah bikin senang sekaligus deg-degan, lha wong Pasar Batik cuma sebuah ruang tamu (rumah mertua lagi) yang disulap jadi ‘gudang’.

Ini semua masalah, namun menggembirakan; happy problems.

*foto diambil dari sini

Comments in moderation

moderation.jpg Tiga puluh dua komentar terkurung di ruang moderasi, enam diantaranya ternyata spam.

Apa yang aneh? Biasanya ada email pengingat kalau ada komentar yang terkurung moderasi, tapi ternyata saya tidak menerimanya; berarti perlu lapor ke yang bersangkutan.
Continue reading →

Sms Spam XL 818

Sms Spam XL 818

Tiga kali menghubungi CSnya untuk tidak lagi menerima sms spam dari 818, tapi terus saja dikirim. Jadi maunya apa tho?

Selamat Idul Fitri 1428 H

Selamat Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin.

Terima kasih buat rekan-rekan yang telah berkirim salam melalui SMS dan media lainnya, insyaAllah saya sudah memaafkan (dan tentu melupakan) segenap cela sikap, kata dan perbuatan yang tentu adalah bagian wajar dalam interaksi.

Mudah-mudahan rekan-rekan semua juga punya cukup kelapangan hati untuk memaafkan segenap cela yang pernah saya dan keluarga torehkan dalam interaksi. :)

Surat Terbuka untuk Pengendara Motor Jakarta

Sudah sedemikiankah kalian tidak punya uang,
sehingga bensin kalian irit sedemikian,
sehingga enggan memutar jauh sedikit,
dan lebih memilih berkendara melawan arus?

Sudah sedemikiankan kalian tidak punya waktu,
sehingga waktu kalian irit sedemikian,
sehingga enggan menunggu lama sedikit,
dan lebih memilih melanggar lampu merah?

Sudah sedemikiankah kalian tidak punya sopan santun,
sehingga etika kalian irit sedemikian,
sehingga enggan mengantri lama sedikit,
dan lebih memilih berkendara di atas trotoar hak pejalan kaki?

Sudah sedemikiankah kalian tidak punya rasa malu,
sehingga rasa malu kalian irit sedemikian,
sehingga enggan mengaku bersalah,
dan lebih memilih mencaci pengguna jalan yang taat aturan?

Sudah sedemikiankan kalian tidak punya keberanian,
sehingga keberanian kalian irit sedemikian,
sehingga enggan berbuat ksatria,
dan lebih memilih berbuat ugal-ugalan dalam keramaian?

Sudah sedemikiankah kalian tidak punya rasa keadilan,
sehingga rasa keadilan kalian irit sedemikian,
sehingga enggan berhenti apabila berbuat merugikan,
dan lebih memilih berhenti hanya apabila dirugikan?

ps: dikopas (dengan sedikit perbaikan) tanpa izin dari sini. Eh Ga, bikin badge-nya dong! ;)

Ditabrak (lari) Di Jembatan Kemang Pratama

A person is smart. People are dumb, panicky, dangerous animals, and you know it.

- Agent K - Men In Black

Sabtu malam, 18 Agustus 2007, Gerbang Utama Perumahan Kemang Pratama

Lalu lintas yang padat merayap di depan gerbang utama perumahan Kemang Pratama adalah hal yang lumrah, kendaraan yang bergerak keluar sama banyaknya dengan yang berkeinginan masuk perumahan ditambah dengan menyempitnya jalan karena langsung masuk jembatan.

Saya dan istri naik motor berduaan bermaksud masuk ke perumahan. Ketika melintas di tengah jembatan, saya sudah melihat ada konvoi motor dari dalam perumahan menuju keluar. Satu motor yang ditunggangi dua orang dengan salah satunya memegang light stick memimpin di depan, memerintahkan kendaraan yang dari arah berlawanan untuk minggir. Saya kurang tahu kenapa mereka memaksakan demikian, yang pasti saya terganggu dengan hal ini.

Saya tetap melajukan motor di jalur semestinya; tidak terlalu di tengah, meski juga tidak terlalu ke pinggir, masih ada cukup ruang buat konvoi melaju. Namun ternyata ruang tersebut dirasa kurang cukup oleh salah satu peserta konvoi, motor kamipun bersenggolan dengan cukup keras.
Continue reading →