Burung Kolibri Merah Dadu

Pernahkah terlintas dalam pikiranmu,
tentang seseorang yang hadir di beranda?
Dialah yang menangkap setiap
perasaan bimbang dan cemasmu.
Pernahkah engkau benar-benar merasa takjub,
ketika ia mengatakan: “Burung kolibri merah dadu itu
kuterbangkan dari hatiku, hanya untukmu. Sungguh.”
Lalu kaucuri sepasang bintang dari tatapannya
yang amat cemerlang. Pernahkah?

Selalu saja terbit perasaan ‘menyesal’ setiap kali tuntas membaca karya-karya mas Kef karena ’sihirnya’ mampu membuat kita terjerembab pada situasi melankoli mendayu-dayu biru. Sebuah situasi yang jika tidak mampu dikendalikan dan ditempatkan pada ruang yang semestinya hanya akan berujung pada lamunan yang memfatamorgana. Dan benarlah, ’sihir’ ini kembali terbukti melalui kelembutan deskripsi dan intonasi diksi dalam buku kumpulan cerpen (cinta) terbaru mas Kef, Burung Kolibri Merah Dadu.

Buku ini juga menjadi fakta penguat bahwa seorang Kurnia Effendi memang pakar dalam cerita cinta dan romantisme dan dia sangatlah tekun bin keukeuh dengan pilihan kepakarannya. Buku yang menyajikan 14 cerpen ini juga menjadi istimewa karena sebagian besar diantaranya adalah cerpen nostalgia karya 80an, sebuah zaman dimana menulis cerpen dijadikan sarana komunikasi dan sapa mas Kef dengan kawan-kawannya sesama penulis. Jadi tiada heran jika dalam acara peluncurannya juga banyak tokoh ‘lama’ berhadiran.

Terlepas dari apakah cinta dan romantisme itu memang harus senantiasa terkait beriringan, buku ini seperti ini hendak mengiyakan pertanyaan tersebut, bahwa cinta itu haruslah romantis. Romantisme juga menjadi bukti, semacam perwujudan sesuatu yang ‘pelik’ nan ajaib dalam karakter relasi laki-laki dan perempuan. Kepelikan yang sangat patut kita syukuri.

Cinta itu tanpa pamrih dan universal kata sebagian orang, namun dalam banyak hal saya malah menemukan pamrih menjadi ujung dari cerita cinta yang mas Kef uraikan; berbuat baik yang konon berlandas cinta yang dilakukan oleh seorang pria terhadap wanita ataupun sebaliknya hampir dipastikan berujung pada pamrih untuk bisa lebih dekat, lebih dihargai, syukur-syukur bisa terus diingat dan kemudian dijadikan nominator calon pendamping hidup yang berujung pada perasaan ingin selalu memiliki dan dimiliki. Bisa jadi penilaian saya yang terlalu tendensius, namun rasanya tidak salah juga kalau kita patut merasa tersindir.

Bagi yang suka menikmati kelembutan dan berharap merasakan virus cinta, maka buku ini sangat layak dibaca. Namun tetap perlu hati-hati dan waspada terhadap pengaruh (buruk) ’sihirnya’. :)

Possibly Related Posts:

Readers who viewed this page, also viewed:

Subscribe: get DHIKA DG delivered by email

12 comments

#1 Pudak Online on 02.23.07 at 12:19 am

masa romantisme dah lewat, soalnya mendekati uzur he..he..he.

salam kenal, blogwalking

#2 Ratih on 02.23.07 at 7:41 am

Wah… rupanya tertular dengan virus kolibri merah dadu, kirain cuman teman sebelah kiri aja yg suka. Kenapa para lelaki yang menyukai kolibri merah dadu yak.. peace om.
Btw, ini pernah dibedah di MP point cipete yak… bener…???

#3 Nicky on 02.23.07 at 3:04 pm

Saya juga dateng ke peluncurannya … ^_^ tp kl saya bilang, Senapan Cinta lebih keren dari kolibri. What do u think ? ;) Lam kenal

#4 Irma Citarayani on 02.24.07 at 6:10 am

cerita cinta memang tak ada habisnya :D

#5 Dhika on 02.25.07 at 6:31 am

#PudakOnline,
romantisme mah ndak kenal umur mas dan rosululullah Muhammad konon adalah manusia paling romantis :)

#Ratih,
waktu itu peluncurannya di mp book point

#Nicky,
kok kita ndak ketemu ya? :)
cerpen kolibrinya sendiri menurut saya memang ‘agak’ biasa-biasa saja, namun secara keseluruhan buku tetap ‘menggoda’ untuk dibaca.

#6 iman on 02.27.07 at 9:42 am

ketika banjir kmrn melahap banyak buku2 koleksi saya yg berharga. saya agak ilfil utk beli-beli buku baru. Apalagi buku kesayangan saya “jalan menikung” Umar Khayam ikut menjadi korban….rasanya ada yang bolong di hati saya.

Jadi, itu artinya cinta?

#7 Dhika on 02.27.07 at 10:18 pm

#iman,
bukan kang, itu namanya kesurupan :)
gimana kalau kita ketemuan dan (pura-pura) pinjem gopekan lagi buat parkir di islamic book fair?

#8 bimoseptyop on 02.28.07 at 7:41 pm

good poetry

tes tes http://bimoseptyop.blogspot.com

#9 Gardine on 03.01.07 at 9:50 am

Hmmm. I think I’ve distanced myself from good fictional literature of any language lately. I point my finger at my leaning towards science & technology. My last attempt at fiction was – a bit of a letdown, I have to admit – Da Vinci Code.

#10 Dhika on 03.02.07 at 7:35 am

#Gardine,
leaning towards science & technology apa sibuk ber-abg2-an sih ga? ;)

#11 Gardine on 03.02.07 at 9:43 am

Both. Mwahahahaha. , gw lupa ngitung komik-komik jepang gw. They are somewhat included in the broader spectrum of “literature”, right? :P

#12 Ari on 03.02.07 at 8:00 pm

dicatet!
sejak tersebut nama mas Kef di postingan Sahara lalu Ari sempet ngeklik link-nya - mantabbb - sudah niat mo cari buku-bukunya tapi lupaaa, sekarang jadi inget lagi :)
Rie-

Leave a Comment