Saya menuliskan jurnal ini dari lokasi pengungsian. Tepatnya di rumah mertua kakak saya di Jati Mekar yang alhamdulillah daerahnya relatif tinggi sehingga tidak terkena banjir *atau belum? Mungkin kurang tepat disebut pengungsian jika dibandingkan dengan makna kata pengungsian yang tergambar dalam benak kita selama ini, namun toh kenyataannya sudah dua keluarga mengungsi kesini dan nanti menyusul keluarga paman yang tengah menanti air agak surut untuk buru-buru mengevakuasi diri, bergabung kesini.
Saya tengah berada di Posko Penanggulangan Bencana (P2B) gawean kawan-kawan PKS Bekasi Selatan sewaktu kakak menelepon untuk lekas kembali ke rumah dan bersiaga karena sungai yang melintasi Kemang Pratama makin meluap, tinggal menunggu waktu untuk tumpah ke perumahan. Saya dan dua kakak tertua memang tinggal di perumahan yang sama, meski berbeda rumah.
Langsung menuju rumah kakak dan mengawal evakuasi mobil ke tempat lebih tinggi menggunakan motor. Sepulang evakuasi mobil kedua, motor sudah tidak bisa kembali ke rumah, jalanan sudah terendam air setinggi paha. Kabarnya tanggul sungai yang dekat Regency sudah jebol. Saya bergegas menelepon kawan di P2B dan menitipkan motor disana. Beberapa ruas jalan perumahan sudah terendam air.
Sepulang menitipkan motor, jalan utama menuju rumah sudah terendam air setinggi dada. Alhamdulillah rumah belum kemasukan air, masih kira-kira 5-10cm lagi. Saya bergegas sholat ashar selagi lantai masih kering dan menyiapkan kebutuhan darurat untuk evakuasi. Selang tidak berapa lama air masuk rumah, saya menyarankan untuk segera mengevakuasi keponakan-keponakan. Dari air meluap sampai air masuk rumah kira-kira memakan waktu 2-2.5 jam.
Evakuasi dipersiapkan menggunakan perahu karet mainan hadiah dari susu Sustagen yang dituliskan mampu menahan beban sampai dengan 95kg. *thanks buat Sustagen! Kloter pertama evakuasi adalah si kembar Keysa dan Keyla beserta Bella, anak pak Lilik tetangga sebelah. Dihantarkan sampai lokasi yang agak kering dan aman. Berikutnya giliran Gugus dan Galang, dihantarkan ke lokasi yang sama. Proses evakuasi memakan waktu sekitar 2 jam. Yang terberat adalah ketika kembali membawa perahu ke rumah karena itu berarti melawan arus. Sekitar jam 19.30 saya kembali telah berada di rumah, rencananya mau bantuin evakuasi tetangga yang punya anak kecil, cuma alhamdulillah sudah tertangani. Jam 20an saya meninggalkan rumah, mengevakuasi diri dalam kegelapan.
Baru saja pak Ato, tetangga depan yang memilih tetap tinggal di rumah, mengabarkan melalui telepon bahwa air sempat surut dan lumpur jalanan tersapu oleh hujan yang turun dini hari tadi, namun sekitar jam 7.30an air kembali naik dan keadaan kembali seperti semalam. Mohon doanya saja agar air lekas surut dan tidak kembali naik.
Banjir2007, jakartaOhJakarta, KemangPratamaPossibly Related Posts:
- Alasan Mengevakuasi Diri
- SIM Card Registration Failed
- Dihubungi Supervisor Samsung Bekasi
- Menerobos Sungai Jakarta-Bekasi
- Juklak Sederhana
Readers who viewed this page, also viewed:
- Lebih Baik Mencoba
- Nominasi Blog Favorit: Edittag, Roniyuzirman dan Strategi Manajemen
- YMTiny, Alternatif berYM ria di HP
- Surat Terbuka untuk Pengendara Motor Jakarta
- Membedah Gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX






3 comments ↓
Innalillaahi wa inna ilaihi roji’un..semoga banjir lekas surut ya dhik
[…] Jalanan utama perumahan telah terendam banjir setinggi dada saya, meski air baru masuk ke rumah sebatas mata kaki ketika saya (menganjurkan) mengevakuasi keluarga (dan diri) sewaktu banjir melanda kemarin. Saya tentu punya pertimbangan sendiri, berikut diantaranya: […]
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
semoga tetep sabar dalam musibah mas….
Leave a Comment