
Judul: Addicted To Weblog - Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia
Penulis: Labibah Zain
Penerbit: Pustaka Populer Obor - YOI
Tebal: 191
Ketika berbicara mengenai komunikasi dan interaksi maka hal yang tidak mungkin dipisahkan adalah terwujudnya sebuah realitas sosial. Internet adalah sebuah media komunikasi dan ketika komunikasi itu terus berkembang saling berkelindan, maka agaknya tanpa sadar internet telah melahirkan sebentuk realitas sosial yang patut dicermati. Sebuah contoh adalah pertemanan dalam dunia maya, dengan dukungan teknologi yang terus berkembang tidak jarang kehangatan dan keeratannya jauh melebihi dibanding pertemanan di dunia nyata.
Addicted To Weblog (yang diambil dari judul salah satu cerpen) adalah sebuah kumpulan cerpen karya Labibah Zain (aka maknyak) yang mencoba menuturkan dinamika pertemanan (antara blogger) di internet dalam bentuk yang jamak. Dramatis namun terasa dekat dan nyata.
“Tak jarang terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Bahkan kadang-kadang menjadi pertengkaran hebat. Saling mengiris perasaan satu sama lain dengan kata-kata yang lebih tajam dari pedang, dan menjadi permusuhan besar walau belum pernah saling bersua. Padahal hanya karena kesalahan memilih kata-kata.” (Addicted To Weblog, hal 37)
Labibah Zain sendiri adalah seorang founder Blogfam, sebuah komunitas blogger terbesar di Indonesia, sehingga wajar jika dinamika pertemanan sesama blogger tersebut mampu tereksplorasi dengan baik pada cerpen-cerpennya. Interaksinya dengan banyak blogger ditambah dinamika yang terjadi di Blogfam agaknya telah menginspirasi cerpen-cerpennya. Blogfam seolah telah menjelma menjadi laboratorium besar bagi proses kreatifnya. Tidak ada kesan menggurui, Labibah dengan kesabaran penuh mengurai narasinya seperti tanpa pretensi namun tanpa terasa menjadi narasi ‘olok-olok’ dan ‘gugatan’ terhadap sebuah realitas sosial.
Kedelapan cerpennya semua bertutur mengenai perempuan sebagai tokoh sentral. Penggambaran perempuan-perempuan yang rapuh. Rapuh terhadap perilaku menyimpang pertemanan di internet, rapuh terhadap sebuah situasi. Menurut saya hanya ada 2 cerpen (Perempuan, 17 Tahun dan Perempuan Pengusung Tradisi) yang tidak berlatar dunia maya, 1 cerpen (Perempuan di Sudut Taman) meski tidak tegas menggambarkan mengenai realitas sosial dalam dunia maya namun minimal terinspirasi dan coba bertutur dalam bentuk analogi yang lain. Keenam cerpen yang berlatar dunia maya secara implisit menggambarkan realitas sosial di internet sebagai bentuk ‘pelarian’ dari realitas dalam dunia nyata. Tanpa disadari ataupun memang disengaja.
Keluar dari realitas sosial dalam dunia maya, bagi saya cerpen Perempuan Pengusung Tradisi menjadi cerpen yang paling menarik. Mengangkat tema tradisi pada kalangan jamaah (keturunan arab), Labibah menarasikannya dengan sangat baik dalam penguasaan kebiasaan dan istilah. Meski berlatar tempat Solo, namun saya langsung teringat dengan kampung Arab yang ada di Pekalongan, tempat kelahiran saya. Dan karena Labibah juga berasal dari Pekalongan, meski saya belum tahu apakah dia juga orang jamaah, saya menduga bahwa apa yang diungkapkannya dalam Perempuan Pengusung Tradisi adalah bagian dari kisah hidupnya atau minimal orang yang sangat dekat dengannya. Benarkah demikian? Labibah sendiri yang bisa menjawabnya.
Menarik, satu kata yang sesuai sebagai sebuah kesimpulan setelah membaca kumpulan cerpen ini. Jika Anda tertarik dengan realitas sosial dalam dunia internet, maka kumpulan cerpen ini sangat layak Anda perhatikan. Dan sependapat dengan Maman Mahayana pada bagian pengantar dalam buku ini, Labibah telah memulainya dengan baik tinggal apakah dia cukup punya nafas panjang untuk merangkaikan karya-karya berikutnya. Kita tunggu saja.
Possibly Related Posts:
- No related posts
Readers who viewed this page, also viewed:
- Rajab 1429
- About
- Iim Rusyamsi, Direktur (baru) TDA
- Yusuf's Blog
- Mohon Doa Restu, Pembukaan Toko Sarung Tenun






10 comments ↓
hehehe makasih Dhika. Senangnyaaa akhirnya bukuku dibaca oleh Dhika dan lebih seneng lagi ketika di buat review seperti ini. makasih yaaa.
Kumcer ini hasil bidikan saya terhadap kejadian2 yang terjadi di dunia maya; chatting di Mirc, YM, tulisan2 di milist dan weblog serta komunitas nya dipadu dengan kejadian2 di dunia sekitar saya. Kasih bumbu2 biar seru. Jadilah kue “addicted to weblog” dan cerita2 lainnya.
misalnya kasus orang2 yg meninggalkan komen untuk mefitnah blogger satu dgn lainnya, dengan menggunakan nama blogger yg sempet marak beberapa waktu yang lalu.
makasih ya dhik. Blogfam tentu menginspirasi saya dalam hal ini. juga komunitas chatters2 di mirc.
makasih ya dhik….
kalau boleh akan saya di http://duniafiksi.blogspot.com
#maknyak,
sama2 mak, saya dapat buku ini waktu jakarta book fair kemarin.
dunia mirc memang nampaknya cukup menginspirasi cerpen2 sampeyan.
tentu boleh…:)
Yang komen ketiga dapat buku ?
Fenomenal banget tu buku.. it’s interesting! ngangkat kenyataan yang terjadi di sekitar kita di cyber ini. Selamat maknyak!
wah jadi pengin baca buku ini, ada yang mau ngasih pinjaman gak ya?
wah, udah lama baca buku itu, karna tertarik isinya.
ada beberapa cerita yg kurang menarik, tapi kebanyakan bagus2.
syukron rek wis ngisi comment ditempatku. kapan nih hunting bareng ;). eh besok (minggu 16 juli 2006) ikut gak ? biasa, munashoroh palestine. mugo2 bisa ketemu.
#achedy,
dapet cak, buku tulis isi 18, mau?
#bambang,
bukunya ndak terlalu mahal mas, beli saja.
#didats,
dunia mirc yg masih terbawa2 memang agak bikin ndak ‘nyaman’, overall bagus semua menurut saya.
#muhandis,
sami2…
btw, kalo OOT mending lewat japri saja mas
Hhmm..saya cari buku mak nyak ini di gramedia beberapa waktu yang lalu kok ga nemu ya??
saya ingin menanyakan bagaimana cara untuk memasukkan karya sastra kedalam internet,tlong saya beritahu,terima kasih atas jawbannya,salam kenal
Leave a Comment