Entries from February 2007 ↓

Burung Kolibri Merah Dadu

Pernahkah terlintas dalam pikiranmu,
tentang seseorang yang hadir di beranda?
Dialah yang menangkap setiap
perasaan bimbang dan cemasmu.
Pernahkah engkau benar-benar merasa takjub,
ketika ia mengatakan: “Burung kolibri merah dadu itu
kuterbangkan dari hatiku, hanya untukmu. Sungguh.”
Lalu kaucuri sepasang bintang dari tatapannya
yang amat cemerlang. Pernahkah?

Selalu saja terbit perasaan ‘menyesal’ setiap kali tuntas membaca karya-karya mas Kef karena ’sihirnya’ mampu membuat kita terjerembab pada situasi melankoli mendayu-dayu biru. Sebuah situasi yang jika tidak mampu dikendalikan dan ditempatkan pada ruang yang semestinya hanya akan berujung pada lamunan yang memfatamorgana. Dan benarlah, ’sihir’ ini kembali terbukti melalui kelembutan deskripsi dan intonasi diksi dalam buku kumpulan cerpen (cinta) terbaru mas Kef, Burung Kolibri Merah Dadu.
Continue reading →

Pasti Ada

Seburuk-buruk orang salah pasti ada baiknya, seperti halnya sebaik-baik orang benar pasti ada buruknya.

Dikutip dari seorang sahabat ketika bernasehat terkait relasi sesama manusia malam tadi.

Alasan Mengevakuasi Diri

Tidak sedikit orang yang memaksakan diri tetap bertahan di rumahnya, meski banjir telah merendam dan berkecenderungan terus naik. Mereka tentu punya alasan tersendiri, meski menurut saya pilihan bertahan di rumah ketika banjir melanda bukanlah keputusan bijak.

Jalanan utama perumahan telah terendam banjir setinggi dada saya, meski air baru masuk ke rumah sebatas mata kaki ketika saya (menganjurkan) mengevakuasi keluarga (dan diri) sewaktu banjir melanda kemarin. Saya tentu punya pertimbangan sendiri, berikut diantaranya:
Continue reading →

, ,

Berakhir Pekan Di Pengungsian

Saya menuliskan jurnal ini dari lokasi pengungsian. Tepatnya di rumah mertua kakak saya di Jati Mekar yang alhamdulillah daerahnya relatif tinggi sehingga tidak terkena banjir *atau belum? Mungkin kurang tepat disebut pengungsian jika dibandingkan dengan makna kata pengungsian yang tergambar dalam benak kita selama ini, namun toh kenyataannya sudah dua keluarga mengungsi kesini dan nanti menyusul keluarga paman yang tengah menanti air agak surut untuk buru-buru mengevakuasi diri, bergabung kesini.
Continue reading →

, ,

Menerobos Sungai Jakarta-Bekasi

Relatif tidak ada kata terlalu larut untuk bercengkerama berdiskusi dengan kawan-kawan yang memang sehati, namun kira-kira pukul 10.30 malam tadi saya memutuskan mengakhiri diskusi dan pulang, menempuh perjalanan Jakarta-Bekasi dengan motor yang selalu menemani.

Dua alternatif rute yang senantiasa saya lewati untuk perjalanan Jakarta-Bekasi adalah melalui terusan Casablanca - Pondok Kelapa lalu masuk Kalimalang atau melalui Cawang dan langsung masuk Kalimalang. Karena terbayang tumpahan air yang bakal menggenangi tinggi jalanan depan RS. Duren Sawit, maka saya urung menggunakan rute pertama dan lebih memilih rute kedua yang melalui Cawang.
Continue reading →